expresinews, JAKARTA  – Pertarungan memperebutkan perahu parpol untuk Pilgub Bengkulu semakin seru. Perkembangan teranyar kemarin, rencana koalisi PDIP dan Partai Demokrat buyar. Semula koalisi ini berencana mengusung Junaidi Hamsyah – Edison Simbolon.

Namun peta politik berubah, PDIP kini malah lebih condong mengusung ke Ridwan Mukti (RM) berpasangan dengan kader PDIP Elva Hatati yang juga Ketua DPD PDIP Provinsi Bengkulu. Kabar terakhir, pasangan RM-Elva sudah diundang Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri untuk hadir di kantor DPP PDIP, Selasa (7/7) besok.

Saat dikonfirmasi, Elva Hartati tidak menampik dirinya telah mendapat undangan dari DPP PDI Perjuangan. “Memang ada undangan, pada Selasa jam 10. Di DPP Jalan Diponegoro, agendanya terkait Pilkada,” ungkap Elva.

Elva mengaku dirinya sebagai Ketua DPD PDIP Provinsi Bengkulu telah diminta menjadi wagub oleh DPP PDIP. Sebagai kader, dia mengaku siap diusung dan mendampingi RM. Dan RM sendiri, kata Elva, pernah memintanya untuk mendampingi maju Pilgub. “Siap menjalankan tugas dimanapun,” ungkap anggota DPR RI itu.

Bergabungnya PDIP ke Koalisi A seperti prediksi RB sebelumnya (lihat RB edisi kemarin). Dengan demikian Koalisi A pengusung RM-Elva terdiri dari parpol-parpol yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yakni PKB (4 kursi), Hanura (2 kursi), PKPI (1 kursi), NasDem (4 kursi) dan PDIP (7 kursi). Total koalisi A memiliki 18 kursi.

“InsyaAllah secepatnya SK ditandatangani. Setelah Ibu (Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri,red) pulang dari luar kota. Mohon doanya,” ungkap Elva.

Beralihnya dukungan PDIP ini membuat pencalonan Junaidi Hamsyah terancam. Bila PDIP balik ke RM dan Demokrat juga beralih ke cagub lain, Junaidi terancam tidak mendapat perahu. Situasi ini kabarnya sudah diketahui Junaidi dengan mengambil strategi lain yaitu melobi DPP PAN.



Deklarasi Sebelum Lebaran

Elva Hartati menambahkan, deklarasi pasangan cagub-cawagub Bengkulu yang diusung PDIP, akan dilaksanakan sebelum lebaran Idul Fitri 1436 H. ‘’Sebelum lebaran ini kita akan menggelar deklarasi besar-besaran. Sebab keputusan DPP itu akan keluar dalam menjelang lebaran Idul Fitri. Saya sudah menyatakan sikap siap ditunjuk DPP sebagai Calon Wakil Gubernur berpasangan dengan RM,’’ kata Elva Hartati kepada RB kemarin.

Menurut Elva, walaupun selama ini pihaknya mencalonkan Dadang Mishal Yoftie Suud sebagai cawagub, tetapi parpol punya strategi sendiri untuk mencapai kemenangan. Posisi Dadang sekaligus Ketua Dewan Penasehat DPD PDIP Provinsi Bengkulu nanti akan diplot menjadi Ketua Tim Pemengan.

‘’Dia (Dadang, red) sudah logowo kalau saya yang akan menggantikannya sebagai Cawagub berpasangan dengan RM. Saya juga sudah siap dan akan rela meninggalkan kursi di DPR RI. Karena saya selaku petugas partai apapun keputusan DPP akan saya jalankan. Yang penting Pilgub pasangan yang diusung PDIP harus menang,” terang Elva.

Diungkapkan Elva, jika selama ini ada Cagub yang berusaha mengklaim siap untuk menjadi kader PDIP untuk mendapatkan parpol pengusung tidak menjadi masalah. Pasalnya DPP sudah memutuskan bahwa untuk menjadi kader tidak semuda membalikkan telapak tangan. Apalagi untuk mendapatkan perahu dalam maju Pilgub.

‘’DPP itu jeli, mereka melihat sejauh mana peranan dan yang sudah diperbuatnya selama ini. Jadi bukan ketika butuh dan ingin perahu buru-buru ingin jadi kader. Kita ingin Cagub yang diusung itu betul-betul didukung dari bawah.  Bukan ujuk-ujuk main lompat dari atas begitu saja,’’ papar Elva yang juga anggota DPR RI ini.



Demokrat Condong ke Sultan

Sementara itu, rencana Partai Demokrat menetapkan cagub/cawagub Bengkulu pada hari kedua rapat pimpinan nasional (rapimnas) di Jakarta Convention Center (JCC), Minggu (5/7) batal. Rapimnas dipimpin langsung Ketua Majelis Tinggi yang juga Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hanya mendengarkan pemaparan peta Pilkada dan hasil survei dari Ketua DPD Demokrat Provinsi, Edison Simbolon.

Informasi yang digali RB di lokasi rapimnas, memang awalnya Majelis Tinggi Demokrat memberi sinyal kuat menetapkan nama Gubernur Bengkulu, Junaidi Hamsyah sebagai calon gubernur. Didampingi oleh kader Demokrat, Edison Simbolon sebagai calon wakil gubernur. Dengan skenario Demokrat berkoalisi dengan PDIP. Namun hingga kemarin, DPP PDIP tidak kunjung mengeluarkan rekomendasi mengusung Junaidi Hamsyah-Edison Simbolon.

Sikap Partai Demokrat kini malah berbalik setelah mendapat informasi bahwa PDIP malah berbalik mendukung RM berpasangan dengan kader PDIP, Elva Hartati.

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat, Sjarifuddin Hasan usai mengikuti pertemuan dengan ketua DPD Demokrat Provinsi tidak menampik bahwa Demokrat belum menetapkan cagub/cawagub Bengkulu karena alasan koalisi parpol belum final. “Pembahasan koalisi belum,” kata pria yang akrab disapa Sjarif Hasan itu.

Bahkan rencana koalisi gagal terbangun, penetapan cagub/cawagub Demokrat bisa tertunda hingga minggu depan. “Belum ada ditetapkan hari ini (kemarin,red). Baru laporan dari ketua DPD dulu, baru kita evaluasi. Semua harus matang,” ujar Sjarif yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu.

Skenario baru DPP Partai Demokrat adalah. Pertama, bergabung dengan koalisi PDIP dkk dengan mendukung RM. Bila bergabung ke Koalisi A ini, Demokrat tidak bisa menempatkan kader baik sebagai cagub maupun cawagub. Skenario kedua, Partai Demokrat bergabung ke Koalisi C (Gerindra dan PAN) untuk mengusung Cagub Imron Rosyadi berpasangan dengan kader Demokrat Dian A Syakhroza. Skenario ketiga, Demokrat berkoalisi dengan PKS untuk mengusung kader Demokrat Sultan B Najamudin berpasangan dengan kader PKS, Syahfan Badri Sampurno.

Pertarungan tiga kader di internal Demokrat semakin panas. Tiga kader itu adalah Edison Simbolon (Ketua DPD Demokrat Provinsi Bengkulu), Dian A Syakhroza (Ketua Departemen Kesehatan DPP Demokrat) dan  Sultan B Najamudin (Sekretaris Departemen Urusan DPD).

Sjarif Hasan tidak menampik skenario mengusung kader menjadi cagub. “Demokrat pada prinsipnya mengutamakan kader,” ujar Sjarif seraya tersenyum ramah.

Pantauan RB di JCC, pertemuan Majelis Tinggi Demokrat dengan DPD Demokrat Provinsi Bengkulu dilakukan tertutup selama 30 menit, pukul 11.30-12.00 WIB. Tanpa didampingi kepengurusan lainnya, Edison masuk ke ruang pertemuan Merak 1 Room. Pertemuan dipimpin langsung oleh SBY selaku Ketua Majelis Tinggi, bersama anggotanya. Ada pula Sekjend, Hinca IP Pandjaitan dan Ketua Komite Pemenangan Pemilu, Edhie Baskoro Yudhoyono.

“Yang saya laporkan hasil survei. Sesuai dengan fakta dan data. Termasuk cagub, siapa sepuluh nama sudah disurvei, saya, ibu Dian (Dian Syakhroza,red), Kukun, Dedy Hermansyah, Dadang dan Ibu Susi (Susi Marleny Bachsin,red),” kata Edison usai bertemu.

Menurutnya, Majelis Tinggi Demokrat akan mempelajari terlebih dahulu hasil pemaparan dirinya. “Keputusannya belum,” ungkap mantan Wakil Walikota Bengkulu itu.

Sementara itu, Dian Syachroza ditemui wartawan di JCC belum berkomentar banyak terkait nasib rencana duetnya dengan Imron Rosyadi. Dian menyerahkan keputusan cagub/cawagub kepada Majelis Tinggi Partai. “Tergantung sama Pak SBY. Majelis Tinggi yang menentukan,” ungkap Dian tersenyum ramah.



Gerindra dan PAN
Di sisi lain, rencana Koalisi Gerindra dan PAN mengusung Imron Rosyadi – Dian A Syakhroza hingga tadi malam masih terganjal belum keluarnya keputusan resmi DPP Partai Gerindra. Sumber RB di Jakarta menyebut, DPP PAN akan mendukung Imron – Dian, dengan syarat Imron bisa mendapatkan dukungan Gerindra. Bila tidak, maka PAN akan beralih ke cagub lain.

Perkembangan terbaru tadi malam, koalisi Gerindra – PAN ini juga berpotensi buyar. Bahkan, ada sumber menyebut Gerindra berpeluang memberikan dukungan kepada RM. Indikasinya, RM kemarin dipanggi oleh Prabowo Subianto.

Wakil Ketua DPD Gerindra Provinsi Bengkulu, Endang Filian, SE mengatakan keputusan berada di tangan DPP. Endang mengakui Imron adalah kandidat terkuat yang akan mendapatkan perahu Gerindra. Kemungkinan itu semakin menguat karena Gerindra dan PAN sudah menjalin komunikasi intensif untuk bersama mengusung Imron.

“Gerindra pada intinya memilih calon yang bisa mendapatkan dukungan parpol lain. Dari 4 nama (Imron, Bando, Suherman, Junaidi Hamsyah) yang dipanggil ke DPP, hanya Imron yang kemungkinan mendapat dukungan Parpol yang sejalan yakni PAN. Kalau PAN sudah menetapan Imron sebagai calon, Gerindra pun demikian,” ungkap Endang.

Dalam sepekan ini dikatakan Endang, nama-nama kandidat calon kepala daerah (cakada) akan digodok oleh DPP. “Semua kandidat cakada sudah dipanggil ke DPP, Sabtu kemarin. Seminggu ini baik itu cagub atau cabup akan dibahas. Pekan depan sudah ada penetapan,” kata Endang.



Susi Tidak Akan Maju

Sementara di bagian lain, Ketua DPD Gerindra Provinsi Bengkulu Susi Marleni Bachsin dipastikan tidak akan maju dalam Pilgub mendatang. Susi yang sedang berada di Singapura menyampaikan pernyataannya melalui Endang Filian. Ditegaskannya, selama ini sudah banyak tim kandidat cagub yang menawarkan anggota DPR RI dari Gerindra tersebut maju sebagai wakil. Akan tetapi Susi tetap menolak.

“Terus terang sudah banyak tim yang meminta ibu Susi maju menjadi wagubnya. Tapi ibu Susi memang tidak mau. Ditambah lagi Pak Waketum Fadli Zon juga meminta bu Susi konsen di legistaltif. Jadi tidak benar kalau ibu Susi sudah dikaitkan akan maju Pilgub berpasangan dengan Pak Bando Amin,” terang Endang.



Imron Siap Mundur
Terpisah, Bupati Bengkulu Utara (BU) Dr. Ir. HM Imron Rosyadi, MM, M.Si informasinya sudah menyiapkan berkas pengunduran dirinya sebagai Bupati BU. Hal ini terkait keyakinannya yang akan maju menjadi salah satu Cagub Bengkulu mendatang.

Paling lambat Imron sudah harus mundur Agustus bulan depan saat mendaftar ke KPU sebagai salah satu calon. Jabatannya sebagai Bupati BU akan digantikan oleh Wabup BU saat ini Ir. Mian yang akan menjabat sebagai Carateker Bupati.

Terkait hal itu, Imron mengaku siap untuk mundur dari jabatan Bupati jika memang aturan yang mengatur pengunduran diri bagi cagub tersebut sudah final. Namun versinya kini Undang-undang KPU tersebut masih mungkin berubah lagi.

“Itukan masih mungkin berubah. Kalaupun memang harus mundur saya siap. Intinya mundur ataupun tidak sebagai Bupati saya siap untuk maju menjadi salah satu Cagub,” tegas Imron.

Saat ini Imron masih konsentrasi melakukan pendekatan politik dengan berbagai Parpol yang nantinya akan mengusungnya sebaga Cagub. Hal ini dilakukan setelah ia menentukan dr. Dian A Syakhroza sebagai balon Wagub yang akan mendampinya dalam Pilgub nanti.  “Nanti setelah semuanya selesai (Parpol pendukung, red) dan memang diharuskan mundur, saya akan menyampaikan pengunduran diri saya sebagai    Bupati,” tegas Imron. (ble/qia/che)






Sumber: http://harianrakyatbengkulu.com

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top