Suatu hal yang harus patut disyukuri oleh perempuan-perempuan Indonesia saat ini. Mereka tidak hanya berkutat dengan pekerjaan rumah yang memang selalu diidentikkan dengan pekerjaan kaum perempuan. Seperti memasak, mencuci piring, pakaian, membersihkan rumah, mengurusi anak dan suami dan lain sebagainya. 

Kini dizaman yang serba modern mereka kaum perempuan bebas mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Aktif diberbagai lembaga/organisasi atau menjadi wanita karier. Mereka bebas memilih apapun yang mereka inginkan untuk dilakukan sepanjang tidak melanggar norma agama dan norma masyarakat yang berlaku. Mereka justru dituntut untuk aktif dan terlibat dalam berbagai hal. 

Namun perlu diketahui bahwa peluang dan kebebasan untuk mendapatkan ini semua bukanlah diraih dengan mudah. Untuk mencapainya ada perjuangan dan pengorbanan luar biasa hebat yang harus dilakukan. Adalah Raden Ajeng Kartini, sosok perempuan Jawa yang dianggap menjadi pelopor kebangkitan perempuan pribumi. 

Ia lahir di Jepara, sebuah kota kecil di ujung utara Jawa yang terkenal dengan ukiran kayunya. Ia adalah putri Raden Mas Ario Sosroningrat—seorang Bupati Jepara—dan M.A. Ngasirah. Ia terlahir di tengah-tengah kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Kartini cukup beruntung karena bisa menuntut ilmu hingga usia 12 tahun. 

Saat itu, tidak banyak perempuan yang bisa menikmati bangku sekolah milik pemerintah Belanda seperti dirinya. Selain karena sekolah-sekolah itu hanya untuk anak-anak dari kalangan priyayi seperti Kartini, di Jawa terdapat adat yang mengharuskan perempuan lebih banyak tinggal di rumah setelah usia 12 tahun karena dianggap sudah bisa dipingit. 

Mereka tidak diperbolehkan bersekolah seperti laki-laki. Akibatnya, perempuan pada masa Kartini berada pada status sosial yang rendah karena tidak berpendidikan tinggi. Keadaan ini membuat Kartini ingin menciptakan perubahan agar perempuan tidak lagi dianggap sebagai kanca wingking atau teman “belakang”, yang hanya diam di rumah untuk melakukan pekerjaan rumah, melayani suami dan merawat anak-anaknya. 

Meskipun saat itu ia tidak diperbolehkan ke luar rumah, ia tidak lantas berdiam diri saja. Ia rajin membaca majalah-majalah dari Eropa yang membuatnya terkagum-kagum dengan kemajuan pola pikir perempuan-perempuan di sana. Ia yang fasih berbahasa Belanda juga rajin mengirim surat untuk teman-teman korespondensinya di Belanda untuk bertukar pikiran dan bercerita tentang impian-impian yang dimilikinya untuk mengubah nasib kaum perempuan Indonesia. 

Di usianya yang ke-24, ia menikah dengan bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat atas permintaan kedua orang tuanya. Didirikannya Sekolah Kartini di Rembang menjadi awal perjuangannya untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan. Beruntung, keinginannya untuk memajukan kaum perempuan didukung sepenuhnya oleh suaminya. 

Di abad 21 ini, Kartini memang telah tiada. Namun berkat kegigihannya, kini telah banyak bermunculan Kartini-Kartini muda yang mempunyai pengaruh baik di Indonesia maupun dunia.

Salah satunya Erna Sari Dewi. Sosok srikandi pertama jadi Ketua DPRD Kota Bengkulu. Siapa yang tak mengenal Erna Sari Dewi,SE. Seorang wanita cantik dan cerdas. Dan murah senyum kepada siapapun. Erna akan memimpin Dewan Kota sampai tahun 2019 mendatang.

Bagi Erna sejak muda dalam prinsip hidupnya  tidak akan membuang-buang waktu dengan aktifitas tidak ada nilainya sebagaimana yang dilakukan perempuan muda pada umumnya. Bagi Erna waktu adalah bagian dari investasi untuk meningkatkan kafasitas diri. Erna salah satu perempuan muda di Kota Bengkulu aktif terjun dalam berbagai kegiatan organisasi sosial, dan politik. Biasanya perempuan muda cenderung melakukan kegiatan-kegiatan lain yang dinilai hanya milik perempuan. Tapi tidak dengan Erna, perempuan berparas cantik dan dikenal ramah ini, mulanya adalah presenter TVRI Bengkulu.

Bagi Erna, kodrat sebagai perempuan bukan alasan untuk menghambat seorang perempuan untuk memimpin sebuah lembaga politik atau apapun. Erna justru berharap dan ingin membuktikan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan kaum pria dalam memimpin. “Karena saya menilai ini sebagai sebuah tantangan tersendiri untuk membuktikannya, apalagi politik juga bagian daripada hidup, dan kita perempuan kita buktikan juga bisa” uangkapnya.

Mendapatkan dan menjalani posisi sebagai Ketua DPRD Kota Bengkulu bukanlah diraih dan dijalani dengan mudah. Banyak hambatan dan rintangan yang dihadapi. Apalagi posisinya sebagai seorang perempuan. Namun jika itu dijalani dengan penuh keikhlasan, maka semua akan menjadi ringan. 

Ketika disinggung masalah peluang dan kesempatan untuk maju Pemilihan Walikota (Pilwako) mendatang, Erna menjawab dengan tegas dan penuh percaya diri, jika masyarakat menghendaki saya siap untuk maju. Karena bagi Erna posisinya sebagai Ketua DPRD Kota Bengkulu belum bisa maksimal dalam merubah keadaan masyarakat Kota menjadi lebih baik. Sebab posisi eksekusinya bukan di DPRD Kota namun pada posisi eksekutif. Oleh karena itu jika masyarakat Kota Bengkulu memberikan kesempatan kepada saya maka saya siap untuk mengembannya. Demikian tegas Erna Sari Dewi.


Sumber : tabloid Agenda Rakyat

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top